Setiap kali Edo berada dihadapanku, rasanya hati ini damai bertaburan
bunga-bunga indah. Edo adalah pria tampan berwajah oriental layaknya
aktor korea, dia anak keturunan cina, matanya sipit dan kulitnya putih,
tapi sayang, dia beragama Budha. Aku dan Edo satu sekolah. Sekolahku
umum, orang yg beragama apapun boleh bersekolah disekolahku ini, tetapi
sekolahku ini mengajarkan tentang agama islam. Sedangkan Edo dia
beragama Budha, Edo kesulitan setiap kali belajar tentang Pendidikan
Agama Islam disekolahku, tetapi dia tetap mengikuti pelajaran itu dengan
baik. Aku sangat kagum padanya, dia bisa melafazkan bacaan basmalah,
dan dia pun hapal doa belajar. Dari kekaguman itulah yg membuat aku suka
padanya.
Aku sangat senang bisa kenal dengan Edo, bisa satu sekolah bahkan
kali ini aku satu kelas dengan Edo. Setiap kali belajar dikelas, aku
selalu mencuri-curi pandang untuk melihat Edo. Terkadang aku tertangkap
basah olehnya karena aku sedang memandang wajanya. Seketika akupun
kadang tertunduk mendadak saat Edo melihat aku.
***
di kelas Edo begitu cuek terhadapku, itu karena aku yg pendiam atau
memang dia yg tidak perduli, itu aku tidak tau. Dikelas ini aku
mempunyai satu teman yg sangat dekat sekali denganku, sebut saja Yuli.
Yuli adalah salah satu sahabatku yg paling aku sayang walaupun terkadang
aku sering kesel dibuatnya. Kemana-mana kami selalu berdua, setiap
istirahat aku selalu di traktir olenya walaupun tidak setiap hari.
Tetapi untuk kali ini aku kekantin tidak ditemani oleh Yuli, aku
kekantin sendirian. Karna saat itu Yuli sedang tidak mau jajan. Dan Saat
aku mau masuk kelas, aku melihat Edo dan Yuli tengah asyik bercanda
tertawa dengan raut wajah yg bahagia. Terlebih mereka duduk berdua.
Mereka terlihat seperti sepasang kekasih saja. Betapa mirisnya aku
melihat orang yg aku sukai, yg aku kagumi, dan aku cintai bermain
bersama sahabatku, walaupun aku tidak berpacaran dengan Edo tetapi
hatiku merasa cemburu melihat mereka berdua. Seandainya Yuli itu adalah
aku, betapa senangnya aku bisa bergurau bersama Edo, itu adalah harapan
kecilku. Yuli tidak mengetahui kalau aku sangat menyukai dan mencintai
Edo, aku sengaja menutupinya karena aku tidak punya nyali untuk
bercerita tentang ini kepada siapapun. Lantas aku tidak mau mendekati
mereka, aku memilih berada diluar kelas saja. Aku berlari menuju taman
sekolah, disitu aku duduk menyendiri ditemani oleh bunga mawar merah yg
merekah dan harum.Aku mau curhat, tapi aku tidak mempunyai nyali, aku
hanya bisa berbagi rasa kepada mawar merah ini yg baru saja kupetik dari
dahannya.
“Mawar, Seandainya dia tau, betapa aku sangat mencintai dia,
seandainya dia tau, dialah orang yg saat ini aku inginkan. Tetapi apakah
aku bisa mendapatkannya? Apakah aku bisa memilikinya”
Sedikit lega saat aku mengungkapkan rasa kepada Mawar merah ini.
Andaikan mawar ini adlah Edo, mungkin rasanya tidak ada lagi beban.
Tetapi itu tidak mungkin. lalu aku kembali kekelas saat bel istirahat
berakhir. Kembali aku duduk dikelas bersama Yuli. Dari jauh aku kembali
mencuri pandang kearah Edo, saat aku melihat Edo, Edo terlihat menengok
kearah aku dan Yuli. Tetapi Edo bukan melihat kearahku melainkan Edo
sedang memandang Yuli sahabatku. Aku langsung beralih pandangan. Ya
Tuhan, Edo menatap kearah Yuli. Kembali jiwa ini terbebani. Kemudian
Yuli mengajaku ngobrol ditengah-tengah pelajaran yang sedang berlangsung
“Des, aku mau curhat ni sama kamu”
“curhat apa Yul, aku siap dengerinnya” balasku dengan senyuman
“emm,, si Edo semalem nembak aku Des” jelas Yuli dengan nada gembira
Oh Tuhan, kini senyumku berubah mennjadi garis melengung ke atas.
apakah itu benar adanya, kalau Edo semalam menembak Yuli untuk jadi
pacarnya? Aku belum percaya dengan apa yg dikatakan Yuli.
“masa sih Yul, mana buktinya?” kata ku tidak percaya
Kemudian Yuli menunjukan hp yg ada sms dari Edo semalem yg isinya:
“nih ya aku bacain, “Yul, dari dulu aku udah lama naksir kamu,
sekarang aku mecintai kamu, kamu mau nggak nerima aku sebagai pacarmu?” “
kata yuli dengan suara agak kecil agar tidak terdengar oleh orang lain
yg berada dikelas ini.
Jantungku berdebar kencang saat Yuli menjelaskan semua itu kepadaku,
aku tertegun. Mengapa ini terjadi pada Yuli, kenapa ini tidak terjadi
kepadaku saja. Hatiku sangat miris.
“oh, terus kamu terima” tanyaku
“iya dong Des, aku juga suka sama Edo, masa aku tolak.” Kata Yuli dengan senang.
“emm.. selamat aja ya Yul. . Longlast deh. Jgn lupa traktir aku”
ucapku dengan memasang wajah ikut senang, padahal hati ini sakit.
“sipp.. dehh”
Memang akhir-akhir ini Edo terlihat dekat dengan Yuli.
***
Edo, lelaki yg selama ini aku sukai, aku kagumi dan aku cintai
ternyata lebih mencintai sahabatku Yuli, begitupun Yuli yg ternyata dia
juga menyukai Edo. betapa sakit, betapa mirisnya hatiku saat ini karena
melihat Edo telah bersama Yuli. Alangkah Bahagianya mereka yg saling
mencintai. Cintaku terhadap Edo ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.
Aku mencintai Edo, tetapi Edo mencintai Yuli. Tidak tau lagi apa yg
mesti aku lakukan untuk mendekati Edo, karena aku tau dia sudah sangat
bahagia bersama Yuli, dan tidak mungkin aku merusak hubungan mereka, dan
tidak mungkin pula aku merusak persahabatan antara aku dan Yuli, aku
hanya bisa tersenyum palsu dihadapan mereka berdua yg sebenarnya aku
sedang sedih karna peristiwa ini tengah menjerat relung hatiku. Aku
turut bahagia melihat Yuli bersama Edo.
END
seandainya dulu kamu tau kalo aku sangat mencintaimu, tapi sayangnya kamu tidak menyadari itu :”(
Tetapi, Kini aku sudah bisa membuang rasa cintaku terhadapmu, karena
kini aku sudah menemukan seseorang yg aku cintai dan mencintaiku, dia
adalah Andi :*
Pupus - Dewa
Aku tak mengerti
apa yang kurasa
rindu yang tak pernah
begitu hebatnya
* aku mencintaimu
lebih dari yang kau tahu
meski kau takkan pernah tahu
aku persembahkan
hidupku untukmu
telah ku relakan
hatiku padamu
namun kau masih bisu
diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara
reff : baru kusadari
cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku
semoga aku akan memahami
sisi hatimu yang beku
semoga akan datang keajaiban
hingga akhirnya kaupun mau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar